8.12.2008

Olimpiade Beijing 2008  

Olimpiade kali ini tak hanya soal olah raga. Bagi Cina, perhelatan akbar ini membuktikan pulihnya kekuatan nasional Cina, setelah berabad-abad dipermalukan karena sejumlah invasi asing. Cina cenderung mencurigai pihak asing lah yang mendalangi tiap kritik terhadap pemerintah, baik itu kritik dari aliran kepercayaan Falun Gong, kelompok minoritas etnis atau disiden politik. Tapi, kita tak boleh kehilangan harapan bahwa Olimpiade yang sukses akan menguatkan rasa percaya diri Cina dan menjadikannya mitra terpercaya. Pertaruhannya sangat tinggi, baik di bidang olah raga maupun poltik.

Harian Spanyol El PaĆ­s yang terbit di Madrid berpendapat, Olimpiade di Beijing tetap dibayang-bayangi pelanggaran HAM.

Pesta olah raga Olimpiade merupakan ujian model pembangunan Cina tanpa kebebasan. Rezim di Beijing berambisi menggunakan Olimpiade sebagai etalase bagi seluruh dunia, karena itu mereka merencanakan tiap detil penampilan Cina. Negara tirai bambu yang melalui proses transformasi luar biasa ingin menanggalkan sisa-sisa rasa rendah diri. Tapi, yang terjadi malah sejumlah pelanggaran HAM dan penindasan di Tibet yang menghantui Olimpiade. Tidak dapat dipungkiri bahwa pesta olah raga akbar kali ini digelar di negara dengan pemerintahan otoriter yang membatasi kebebasan individu, memburu pihak oposisi dan menjebloskan para disiden ke penjara.

Harian Prancis Le Monde mengomentari kehadiran Presiden Nicolas Sarkozy di acara pembukaan perhelatan olah raga akbar ini:

Nicolas Sarkozy menghadiri pembukaan Olimpiade di Beijing tanggal 8 Agustus, sehingga ia tidak akan bertemu Dalai Lama yang akan memulai lawatannya ke Prancis tanggal 11 Agustus mendatang. Presiden Prancis, yang juga memangku kepresidenan Uni Eropa sampai akhir tahun ini, menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan apa yang selama ini dikotbahkannya. Apakah semua itu hanya kata-kata kosong belaka? Hari ini, Monsieur Sarkozy mengantongi sejumlah kekalahan: Baik itu dalam perjuangan untuk penegakan HAM, citra Prancis di mata dunia serta dalam hubungan Prancis dengan pemimpin Cina, yang kini menyadari arti sebuah desakan yang dilontarkan Prancis.

Sementara, harian Italia La Repubblica menyoroti hadirnya Presiden AS George W. Bush di Beijing.

Kehadiran Bush merupakan pengakuan bersejarah bagi Cina. Ini adalah yang pertama kalinya seorang presiden Amerika menghadiri upacara pembukaan Olimpiade di luar negeri Paman Sam. Pemerintah di Beijing menilai pengakuan tersebut adalah keberhasilan bermakna simbolis tinggi, tapi Cina tetap bersikukuh pada pendiriannya. Beijing menegaskan, Cina tidak bersedia menerima kritik. Dan pemerintah memperingatkan untuk tidak menggunakan kesempatan ini untuk mengurui Bejing mengenai catatan HAM Cina. Sementara, bagi Bush ini adalah kunjungan luar negeri penting terakhirnya. Dan ia justru melawat dengan negara adidaya baru yang merupakan pesaing utama Amerika di bidang ekonomi, politik dan militer.

Sementara harian Polandia Gazeta Wyborcza yang berhaluan liberal kiri berpendapat, pesta pembukaan kali ini merupakan pesta kemenangan Cina yang komunis.

Apakah segala protes ini membuahkan hasil? Jawabannya: ya. Protes terhadap segala bentuk kejahatan adalah suatu kewajiban moral, suatu pertanyaan yang harus diajukan tiap-tiap orang pada hati nuraninya. Mereka, yang mengibarkan bendera Tibet, mengelar unjuk rasa di depan Kedutaan Cina, menanda-tangani surat protes atau khusus datang ke Beijing untuk memasang spanduk atau melantunkan slogan, sebelum dibekuk polisi Cina, mereka adalah bukti hidup bahwa masyarakat dunia tak tunduk pada Cina. Demonstrasi di sejumlah negara dunia menyusul pembubaran dengan kekerasan protes di Tibet menunjukkan wajah dunia yang lebih baik, solidaris dan penuh belas kasihan. Dan ini sungguh bernilai dan berarti